Minggu, 17 Agustus 2014

Tua Harusnya Lebih Bijaksana

Tulisan ini sengaja saya angkat karena saya sangat prihatin, sedih dan tak habis pikir menyaksikan kejadian demi kejadian yang sering terjadi di sekitar kita. Saya ambil contoh sebuah perguruan silat yang disitu tentunya terdiri dari guru-guru silat, murid-murid, pegawai dan seorang suhu sebagai ketua (pemilik). Ketua ini biasanya sih ilmunya tidak seberapa, tetapi karena merasa beliau yang menguasai rumah padepokan silat tersebut maka beliau ini sering merasa jumawa, lebih hebat dan berkuasa.

Dengan alasan inilah sering terjadi dialog antara suhu dengan guru-guru secara tidak sehat. Di satu sisi para guru berusaha memilih kata-kata yang sehalus dan sebijak mungkin dalam mengemukakan ide dan saran tetapi di sisi lain sang suhu dengan seenak perutnya berkatata-kata. Kata -kata yang meluncur dari bibir rentanya itu seperti kata-kata preman pasar yang akan menerkam mangsanya.

"He...kalian..ya kamu, kamu, kamu guru g***** ! semua ! "
"Kurang ****!..."

Dan masih banyak kata-kata yang lebih kasar lagi yang tidak sanggup dan tidak berani  saya menuliskan dalam blog ini. Sangat disayangkan seorang yang mengemban amanah mulia sebagai pengelola guru ternyata tidak bisa bersikap mengayomi, mendidik dan memberi contoh yang baik bagi guru-guru di padepokannya.

Usia, jabatan, pendidikan ternyata tidak menjamin seseorang itu bisa berkata dan berbuat baik kalau hatinya dilupiti nafsu dan kecurangan. Maka saya mengajak kita semua untuk berusaha sekuat tenaga untuk menguasai nafsu kita, menguasai fikiran kita dan menundukkan hati kita supaya tidak sombong, dengki dan membenci orang lain. Sudahlah kalau yang tua-tua sudah tidak bisa memberi contoh yang baik biarkanlah kita dan anak cucu kita lah yang akan memberikan contoh yang lebih baik dalam berfikir, berkata dan bersikap.

1 komentar: